Berita Utama

Hadapi Pasar Bebas ASEAN, Petani Harus Tingkatkan Daya Saing Produk Lokal

Administrator | Jumat, 23 Agustus 2013 - 16:30:34 WIB | dibaca: 1583 pembaca

Balikpapan – Pemerintah terus mendorong peran aktif  petani untuk meningkatkan daya saing produknya. Hal ini terkait dengan kesiapan Indonesia menghadapi ASEAN Economic Community 2015 dimana kawasan ASEAN akan menjadi pasar tunggal berbasis produksi tunggal. Dengan demikian, seluruh negara ASEAN harus melakukan liberalisasi perdagangan dengan arus modal yang lebih bebas sebagaimana yang telah digariskan dalam ASEAN Economic Community (AEC) Blueprint.  Demikian dikatakan Menteri Pertanian Dr. Ir. Suswono, MMA saat membuka Pertemuan Nasional Masyarakat Perlindungan Tumbuhan dan Hewan Indonesia (MPTHI) di Balikpapan pada (21/8/2013).
 
Mentan mengatakan, pasar bebas ASEAN berdampak cukup besar bagi semua sektor perdagangan, termasuk sektor pertanian. Penurunan dan penghapusan tarif secara signifikan yang dilakukan oleh pemerintah akan mengakibatkan semakin banyaknya produk impor masuk ke Indonesia. Kondisi inilah yang cukup mengkhawatirkan karena berpengaruh pada eksistensi produk lokal, peningkatan daya saing produk lokal sangat diperlukan menghadapi pasar bebas ASEAN 2015 mendatang.  
 
“Dalam era globalisasi perdagangan, mutu produk merupakan salah satu indikator keberhasilan peningkatan daya saing produk pertanian yang dapat dijadikan sebagai non tariff barier dalam menekan laju importasi, untuk itu dibutuhkan kesiapan petani Indonesia meningkatkan hasil pertaniannya ,” jelas Mentan.
 
Mentan mencontohkan pada subsektor hortikultura Indonesia menghadapi beberapa permasalahan, salah satu diantaranya adalah masih tingginya kehilangan hasil produk hortikultura segar dalam perdagangan. Hal itu disebabkan oleh adanya serangan OPT dan faktor fisiologis pada saat distribusi/pengangkutan dan penyimpanan, karena itu perlindungan pascapanen produk hortikultura harus ditingkatkan.  
 
Selain masalah kehilangan hasil, saat ini  ketentuan Sanitary and Phytosanitary (SPS) dan batas maksimum residu (BMR) untuk produk hortikultura semakin banyak dan berat. Hal tersebut cukup menyulitkan ekspor produk hortikultura segar karena untuk memenuhinya memerlukan pendekatan lintas sektor  bahkan dengan pihak-pihak luar negeri.
 
Menghadapi masalah tersebut, Mentan berharap agar pertemuan nasional Masyarakat Perlindungan Tumbuhan dan Hewan Indonesia diharapkan dapat  menghasilkan keputusan dan masukan yang solutif bagi masalah pertanian Indonesia ke depan.
 
Pada kesempatan tersebut, Mentan juga menekankan tekadnya mewujudkan kemandirian pangan dengan melakukan peningkatan produksi dan produktivitas komoditas pertanian. “Mengingat permintaan beras yang terus meningkat sementara di lain pihak terjadi perubahan iklim global yang berdampak pada terganggunya produksi pangan, maka pemerintah menaruh perhatian khusus terhadap masalah pangan ini, apalagi menjelang dibukanya pasar bebas ASEAN dua tahun mendatang ” jelas Mentan.
 
Langkah strategis pengamanan produksi menghadapi dampak perubahan iklim tersebut diantaranya dengan memanfaatkan informasi iklim yang bersumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang ada di masing-masing provinsi, melakukan perencanaan budidaya sesuai iklim dan kondisi setempat, perencanaan dan penyiapan sarana produksi (benih dan pupuk), penyiapan sarana penanggulangan, penggunaan varietas umur pendek, dan varietas toleran terhadap kekeringan, dan rendaman serta pemberdayaan petani dalam keadaan iklim ekstrim.
 
Sumber: Biro Umum dan Humas





Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)